Rabu, 26 Mei 2010

kepemimpinan

BAB I

PENDAHULUAN

A. PIMPINAN

Di dalam sebuah organisasi pasti ada seorang pimpinan dan yang menjadi bawahan. Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa pimpinan sangatlah jauh berbeda dengan pemimpin. Berbeda dengan pemimpin, pimpinan memiliki kekuasaan karena jabatan yang dimilikinya.. Perbedaan mendasar antara pemimpin dan pimpinan adalah dari pola pikir dan cara bekerja. Pimpinan berfikir untuk jangka pendek dan melakukan apa yang telah digariskan, kaku dan enggan berubah. Pimpinan juga lebih erat hubungannya sebuah jabatan di sebuah organisasi.

B. PEMIMPIN

Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai karakteristik yang dapat memimpin orang. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. (Kartini Kartono, 1994 : 181).

Pemimpin dalam bahasa Inggris menjadi "Leader", yang mempunyai tugas untuk me-Lead anggota disekitarnya. Sedangkan makna Lead adalah :

Ø Listening, seorang pemimpin harus mendengarkan pendapat atau kritikan.

Ø Educate, seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan pengetahuannya pada rekan-rekannya.

Ø Advice, memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada

Ø Discipline, memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya.

Dari segi pola pikir dan cara bekerja, seorang pemimpin memiliki visi jauh ke depan, sanggup mengadopsi perubahan. Dalam melaksanakan pekerjaanya pemimpin sangat fleksibel dan tidak kaku. Secara personal seorang pemimpin dapat menjadi idola dan siap menjadi teladan.

Pemimpin inilah yang mendorong dan menggerakan orang lain agar mau bekerja sama mencapai tujuan yang telah ditentukan. Fungsi ini penting, sebab bagaimana pun juga baiknya perencanaan, tertibnya organisasi dan tepatnya penempatan orang dalam organisasi, belum berarti menjamin geraknya organisasi menuju sasaran dan tujuan. untuk itu diperlukan kecakapan, keulatan, pengalaman dan kesabaran.

Adapun defenisi kepemimpinan menurut para ahli dalam beberapa kamus modern adalah : Definisi pemimpin menurut para ahli dan dalam beberapa kamus modern diantaranya :

1. C. N. Cooley (1902)

Pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, dan pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermat akan akan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat.

2. Ahmad Rusli dalam kertas kerjanya Pemimpin Dalam Kepimpinan Pendidikan (1999) Menyatakan: Pemimpin adalah individu manusia yang diamanahkan memimpin subordinat (pengikutnya) ke arah mencapai matlamat yang ditetapkan.

3. Henry Pratt Faiechild dalam Kartini Kartono (1994 : 33) Pemimpin dalam pengertian ialah seorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/ penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.

BAB II

PENDEKATAN DALAM KEPEMIMPINAN

A. SIFAT KEPEMIMPINAN

Untuk mempelajari kepemimpinan menggunakan tiga pendekatan. Pendekatan pertama bahwa kepemimpinan itu tumbuh dari bakat, kedua kepemimpinan tumbuh dari perilaku. Kedua pendekatan diatas berasumsi bahwa seseorang yang memiliki bakat yang cocok atau memperlihatkan perilaku yang sesuai akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok ( organisasi ) apapun yang ia masuki. Pendekatan yang ketiga bersandar pada pandangan situasi ( situasionar perspective ) pandangan ini berasumsi bahwa kondisi yang menentukan efektifitas pemimpin. Efektifitas pemimpin bervareasi menurut situasi tugas yang harus diselesaikan, keterampilan dan pengharapan bawahan lingkungan organisasi dan pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan. Dalam situasi yang berbeda prestasi seorang pemimpin berbeda pula, mungkin lebih baik atau lebih buruk. Pendekatan ini memunculkan pendekatan kontingensi yang menentukan efektifitas situasi gaya pemimpin. Kelompok pertama yang bermaksud menjelaskan tentang aspek kepemimpinan yaitu para teoritis kesifatan. Bahwa pemimpin mempunyai sifat dan cirri tertentu.
Untuk mengenali karakteristik atau ciri pribadi dari para pemimpin, para psikolog mengadakan penelitian. Mereka berpandangan bahwa pemimpin ini dilahirkan bukan dibuat. Secara alamiah bahwa orang yang mempunyai sifat kepemimpinan adalah orang yang lebih agresif. Lebih tegas, dan lebih pandai berbicara dengan orang lain serta lebih mampu dan cepat mengambil keputusan yang akurat. Pandangan ini mempunyai implikasi bahwa jika ciri kepemimpinan dapat dikenali. Maka organisasi akan jauh lebih canggih dalam memilih pemimpin. Hanya orang-orang yang memiliki ciri-ciri kepemimpinan sajalah yang akan menjadi manajer, pejabat dan kedudukan lainnya yang tinggi.

B. PENDEKATAN SITUASIONAL ‘CONTINGENSI’ DALAM KEPEMIMPINAN

Pendekatan ini menggambarkan tentang gaya kepemimpian yang tergantung pada faktor situasi, karyawan, tugas, organisasi dan variabel lingkungan lainnya.
Mary Parker Follectt mengatakan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kepemimpinan yaitu 1) pemimpin, 2) bawahan 3) Situasi juga pemimpin harus berorientasi pada kelompok.

1. Konsep Kepemimpinan Situasional

Kata memimpin mengandung makna yaitu kemampuan untuk menggerakkan segala sumber yang ada pada suatu organisasi sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Suatu kenyataan kehidupan organisasional bahwa pimpinan memainkan peranan yang amat penting, bahkan dapat dikatakan amat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Memang benar bahwa pimpinan, baik secara individual maupun kelompok, tidak mungkin dapat bekerja sendirian. Pimpinan membutuhkan sekelompok orang lain, yang digerakkan sedemikian rupa sehingga para bawahan itu memberikan pengabdian dan sumbangsihnya kepada organisasi, terutama dalam cara bekerja yang efisien, efektif, ekonomis, dan produktif.

Dengan kata lain, seorang pemimpin harus menunjukkan kemampuan untuk :

a) Pemegang kemudi organisasi yang cekatan dengan jalan membawa organisasi ke tempat tujuan yang ditetakan sebelumnya tanpa melalui terlampau banyak penyimpangan yang jika terjadi dengan frekuensi yang tinggi akan mengakibatkan pemborosan dan inefesiensi.

b) Peran selaku bapak terutama di kalangan anggota organisasi. Sering dalam organisasibaik organisasi swasta maupun pemerintah terdengar istilah ”keluarga besar”, hal ini menunjukkan bahwa dalam organisasi tersebut telah terjalin hubunganemosional kekeluargaan yang kondusif dan hangat.

i. Gaya Kepemimpinan Situasional

Gaya kepemimpinan seorang pemimpin beraga macamnya. Gaya kepemimpinan situasional merupakan pendekatan yang sangat efektif, untuk meningkatkan kreatifitas seorang pemimpin dalam menghadapi suatu masalah tergantung situasi yang dihadapi.. gaya kepemipinan situasional adalah perilaku dan gaya kepemimpinan bersifat situasional. Dimana pimpinan harus menyesuaikan responnya menurut kondisi atau tingkat perkembangan kematangan karyawan, serta memberikan sejumlah pengarahan dan dukungan yang bersifat sosioemosional. Gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat, yaitu pengambilan keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. Seorang pemimpin dapat melakukan berbagai cara dalam kegiatan mempengaruhi atau memberi motivasi orang lain atau bawahan agar melakukan tindakan-tindakan yang selalu terarah terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Setiap orang juga memiliki kemampuan untuk bisa bergerak maju mendapatkan apa yang mereka mau dan juga apa yang mereka inginkan oleh organisasi. Pemimpin sejati memberi dorongan darai belakang tetap mengarahkan agar sesuai tujuan dan mampu memastikan bahwa orang-orang di dalam organisasi bekerja sesuai dengan arah dan strategi ang telah ditetapkan. Perilaku Pemimpin diantaranya :

1.Fungsi-fungsi Kepemimpinan

Perilaku pemimpin mempunyai dua aspek yaitu fungsi kepemimpinan (style leadership). Aspek yang pertama yaitu fungsi-fungsi kepemimpinan menekankan pada fungsi-fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Agar berjalan efektif, seseorang harus melakukan dua fungsi utama yaitu : 1) fungsi yang berkaitan dengan pemecahan masalah dan 2) fungsi-fungsi pemeliharaan (pemecahan masalah sosial). Pada fungsi yang pertama meliputi pemberian saran pemesahan dan menawarkan informasi dan pendapat. Sedangkan pada fungsi pemeliharaan kelompok meliputi menyetujui atau memuji orang lain dalam kelompok atau membantu kelompok beroperasi lebih lancar.
2. Gaya-gaya Kepemimpinan

Pada pendekatan yang kedua memusatkan perhatian pada gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan meliputi 1) Gaya dengan orientasi tugas dan 1) Gaya berorientasi dengan karyawan. Pada gaya yang pertama pemimpin mengarahkan dan mengawasi melalui tugas-tugas yang diberikan kepada bawahannya secara tertutup, pada gaya ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Sedangkan gaya yang berorientasi pada karyawan lebih memperhatikan motivasi daripada mengawasi, disini karyawan diajak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan melalui tugas-tugas yang diberikan.

ii. Implementasi Pendekatan Situasional

Pendekatan situasional bukan hanya merupakan hal yang penting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena kepemimpinan, tetapi membantu pula car pemimpin yang potensial dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang ermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat berdasarkan situasi. Perana pemimpin harus dipertimbangkan dalam hubungan dengan situasi dimanapun peranan itu dilaksakan. Pendekatan situasional dalam kepemimpinan mengatakan bahwa kepemimpinan dalam menginplementasikannya, pendekatan yang dilakukan akan berdampak positif dan bersifat tepat sasaran. Walaupun organisasi menghendaki penyelesaian tugas-tugas yang tinggi. Disarankan agar menejer memainkan peran directive yang tinggi, memberikan saran bagaimana menyelasaikan tugas-tugas itu, tanpa mengurangi intensitas hubungan sosial dan komunikasi antara atasan dan bawahan.

Komunikasi dua arah menuntut keahlian manajemen puncak mencerna informasi yang disampaikan para menejer dan karyawan, terutama keluh kesah mereka dan keahlian menyamapikan informasi dari pucuk pimpinan perusahaan ke seluruh manajer dan karyawan. Sementara itu, komunikasi tatap muka menuntut manajemen puncak meluangkan waktu untuk berkunjung ke lokasi kerja manajer dan karyawan. Kunjungan ini sangat bermanfaat bagi kelancaran komunikasi dua arah,serta memompa semangat kerja manajer dan karyawan ditentukan tidak oleh sifat kepribadian manajer dan karywan. Ditentukan tidak oleh sifat kepribadian individu-individu, melainkan oleh persyaratan situasi sosial. Dalam kaitan ini Sutisna menyatakan bahwa ”kepemimpinan” adalah hasil dari hubungan-hubungan dalmsituasi sosial dan dalam situasi berbeda para pemimpinmemperlihatkan sifat kepribadian yang berlainan. Jadi, pemimpin dalam situasi yang satu mungkin tidak sama dengan tipe pemimpin dalam situasi yang lain dimana keadaan dan faktor-faktor sosial berbeda. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendekatan siusional menekankan padapentingnya faoktor-faktro kontekstual seprti sifat pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit pimpinan, sifat lingkungan eksternal, dan karakteristik para pengikut.

C. PENDEKATAN TINGKAH LAKU PEMIMPIN

Bagaimana mendelegasikan tugas, berkomunikasi dan memotivasi bawahan. Tingkah laku dapat dipelajari, individu yang dilatih tentang perilaku kepemimpinan yang tepat akan mampu menjadi pemimpin efektif. Penelitian membagi dua aspek perilaku dalam kepemimpinan yaitu fungsi kepemimpinan dan gaya kepemimpinan. Fungsi kepemimpinan adalah aktivitas yang dipertahankan kelompok dan berkaitan dengan tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin agar kelompok dapat berfungsi secara efektif. Fungsi kepemimpinan berkaitan dengan dua fungsi yaitu fungsi yang berhubungan dengan tugas atau memecahkan masalah dan fungsi memelihara kelompok atau sosial, seperti menengahi perselisihan dan menjaga agar individu merasa dihargai dalam kelompoknya. Pemimpin yang sangat efektif dapat melaksanakan kedua peran tersebut, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kelompok paling efektif membentuk kepemimpinan bersama yaitu manajer pimpinan formal melakukan fungsi tugas sementara anggota kelompok melakukan fungsi sosial. Gaya kepemimpinan adalah berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja. Kedua fungsi kepemimpinan tersebut cenderung diekspresikan dalam dua gaya utama kepemimpinan. Gaya kepemimpinan otoktratis atau otoriter merupakan gaya kepemimpinan berorientasi tugas, mengawasi karyawan dengan ketat untuk menjamin pelaksanaan pekerjaan dengan memuaskan. Pelaksanaan tugas yang sesuai diharapkan pimpinan dan dikerjakan dengan baik lebih ditekankan daripada mendorong pertumbuhan karyawan. Pengendalian terhadap pelaksanaan tugas lebih dominan daripada kebebasan karyawan untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kepuasan pribadi. Gaya kepemimpinan dengan kekuasaan penuh dan sedikit sekali atau tidak ada masukan dari karyawan.

Gaya kedua dikenal sebagai gaya kepemimpinan partisipatif atau demokratis yaitu gaya kepemimpinan yabg berorientasi pada karyawan, lebih menekankan pada memotivasi karyawan dalam melaksanakan pekerjaan daripada mengendalikan karyawan. Gaya kepemimpinan dengan menerima masukan dari karyawan tetapi menggunakan wewenangnya untuk mengambil keputusan. Pemimpin yang lebih pada mencari hubungan bersahabat, saling percaya dan saling menghargai dengan karyawan serta adanya partisipasi dalam membuat keputusan yang akan mempengaruhi karyawan

BAB III

KARAKTERISTIK PEMIMPIN

DI LEMBAGA KEMAHASISWAAN

Lembaga, sebuah kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tetapi tidak
semua pribadi memiliki interpretasi yang sama terhadap satu kata ini.
Harfiahnya, Lembaga adalah sebuah wadah yang memiliki orientasi ataupun
tujuan tertentu,begitu pula halnya dengan organisasi, cukup dengan
beberapa orang yang memiliki visi dan misi yang sama,maka terbentuklah
sebuah organisasi. Di
sisi lain, lembaga pun dapat memiliki sebuah konotasi, sebagai contoh Lembaga Pemasyarakatan. Eksistensi dan Esensinya mungkin baik,tetapi
tidak semuanya memandang hal itu sama.Begitu pula dalam lembaga kita
ini ,lembaga kemahasiswaan. mahasiswa , sebagai sosok yang dituntut tanggung jawabnya sebagai agent of
social control. Jembatan antara masyarakat dan elite politik. Mahasiswa yang menyadari idealisme dan konsep pergerakannya,membutuhkan sebuah wadah untuk bergerak,dengan satu pandangan dan tekad bersama,lahirlah sebuah
lembaga kemahasiswaan.

Organisasi kemahasiswaan juga memiliki karakteristikyang sama dengan organisasi pada umumnya. Hanya saja, organisasi kemahasiswaan mempunyai ciri-ciri suasana dinamika yang khusus yakni :

a)Pencirian idealisme,

b) Ketajaman berpikir,

c)Pembelajaran interelasi sosial,

d) Social responsibility yang tinggi,

e)Hubungan emosional yang kuat,

f) Transformasi personality,

g) Ekspektasi cita-cita,

h) Kecintaan terhadap institusi,

i) Kerja sama tim.

Lembaga kemahasiswaan yang mana memiliki tanggung jawab untuk membangun mahasiswa yang berintegritas dan bermoral harus mampu beradaptasi dengan kondisi masyarakat saat ini. Salah satu permasalahan yang ada di masyarakat adalah cara pandang yang salah terhadap hidup itu sendiri. Masyarakat yang kian terjepit oleh kemerosotan ekonomi maupun budaya membuat mereka tidak bisa berpikir logis dan rasional. Peran mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaannya diharapkan mampu mengubah paradigma yang ada di masyarakat supaya lebih positif, kolaboratif, adaptif dan inovatif. Semua hal ini tentu harus dimulai dari para mahasiswa itu sendiri sebagai seorang yang mampu membuat perubahan besar dengan energy besar. Mahasiswa sangat diharapkan memiliki kemampuan untuk berubah dan menyesuaikan aktifitasnya agar lebih produktif dan solutif terhadap permasalahan masyarakat serta memberikan opini positif kepada masyarakat dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

Pemimpin organisasi mahasiswa akan menjadi figur sentral dalam setiap denting suara denyut jantung organisasi. Dengan demikian, pemimpin organisasi mahasiswa dinilai sebagai inspirator yang diharapkan dapat membawa organisasi sebagai organisasi yang handal (credible), memiliki kecakapan (capable), diperhitungkan (computable), dan patuh (compliance) terhadap etika dan norma-norma kehidupan kampus. Kepemimpinan mahasiswa saat ini ditunggu oleh masyarakat, baik saat ia masih mahasiswa maupun saat ia sudah menjadi alumi perguruan tinggi. Saat menjadi mahasiswa, kepemimpinan ini bisa dilatih dan dibentuk, adalah tanggung jawab lembaga kemahasiswaan untuk mampu menciptakan sebanyak-banyaknya mahasiswa yang memiliki karakter pemimpin dengan berbagai macam aktivitas. Diharapkan regenerasi kepemimpinan bisa terbentuk sehingga akan ada banyak calon pemimpin masa depan negeri ini. Selain itu, mahasiswa juga bisa memimpin masyarakat dengan membangun opini yang positif dan solutif sehingga memberikan inspirasi kepada masyarakat untuk bergerak dan berubah. Mahasiswa juga bia bergerak bersama masyarakat untuk menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan krisis ekonomi dengan membuat usaha bersama, membuka lapangan kerja, dengan bantuan modal dan kompetensi yang dimiliki tentunya mahasiswa bisa berpikir “berapa banyak lapangan kerja yang akan saya buat setelah saya lulus”. Kepemimpinan mahasiswa dalam bentuk membantu dalam advokasi public, seperti membela hak rakyat miskin dengan audiensi ke pemegang kebijakan, memediasi antar kelompok yang bertikai maupun memeberikan usulan kepada pemerintahan yang ada agar kebijakan yang ada bisa bijak untuk masyarakat.

Semangat kepemimpinan mahasiswa dan berjuang untuk rakyat ini sangat berpengaruh terhadap idealisme seseorang setelah lulus perguruan tinggi. Seorang yang memiliki integritas dan bermoral akan terbentuk. Karena ia sudah terbiasa bekerja jujur dan rela berkorban, dimana hal ini menjadi sulit untuk ditemui di masyarakat masa kini. Karakter inilah yang akan membuat Indonesia masa depan akan mandiri, untuk itu mahasiswa harus bisa memanfaatkan waktu perkuliahan ini dengan baik untuk menyiapkan diri menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang, dimulai dari bangku kuliah menuju istana merdeka.

BAB IV

KEPEMIMPINAN MASA DEPAN

Penelitian mengenai tingkah laku dari orang yang mempunyai pengaruh luar biasa pada organisasi menunjukkan pada beberapa pemimpin organisasi. Teori Bernard M Bass mengenai kepemimpinan transformasional, membandingkan dua tipe tingkah laku kepemimpinan yaitu transaksional dan transformasional.

Pemimpin transaksional menetapkan apa yang harus dilakukan bawahan untuk mencapai tujuan, mengklasifikasikan keperluan tersebut dan membantu bawahan menjadi percaya diri bahwa mereka dapat mencapai tujuan tertentu.

Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang lewat visi dan energi pribadi memberi inspirasi para pengikutnya dan mempunyai dampak besar pada organiasasi mereka juga disebut pemimpin karismatik. Mereka memotivasi kita untuk berbuat lebih dari apa yang sesungguhnya diharapkan dari kita, dengan meningkatkan arti penting dan nilai tugas di mata kita dengan mendorong kita mengorbankan kepentingan kita sendiri demi kepentingan tim, organisasi, atau kebijakan yang lebih besar. dan dengan menaikan tingkat kebutuhan kita ke taraf yang lebih tinggi seperti aktualisasi diri.

BAB V

KESIMPULAN

1. Pemimpin dan pimpinan tidaklah sama, Perbedaan mendasar antara pemimpin dan pimpinan adalah dari pola pikir dan cara bekerja. Seorang pemimpin memiliki visi jauh kedapan, sanggup mengadopsi perubahan, sedangkan pimpinan berfikir untuk jangka pendak, melakukan apa yang telah digariskan, kaku dan enggan berubah.

2. Untuk mempelajari kepemimpinan menggunakan bebarapa pendekatan. Pendekatan pertama bahwa kepemimpinan itu tumbuh dari bakat, kedua kepemimpinan tumbuh dari perilaku. Kedua pendekatan diatas berasumsi bahwa seseorang yang memiliki bakat yang cocok atau memperlihatkan perilaku yang sesuai akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok ( organisasi ) apapun yang ia masuki.

3. Lembaga kemahasiswaan yang mana memiliki tanggung jawab untuk membangun mahasiswa yang berintegritas dan bermoral harus mampu beradaptasi dengan kondisi masyarakat saat ini.

4. Pemimpin dalam lembaga kemahasiswaan harus lah lebih memperhatikan apa yang di inginkan oleh anggotanya dalam lembaga kemahasiswaan.

5. Pemimpin transaksional menetapkan apa yang harus dilakukan bawahan untuk mencapai tujuan, mengklasifikasikan keperluan tersebut dan membantu bawahan menjadi percaya diri bahwa mereka dapat mencapai tujuan tertentu.

6. Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang lewat visi dan energi pribadi memberi inspirasi para pengikutnya dan mempunyai dampak besar pada organiasasi mereka juga disebut pemimpin karismatik.



DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www. bismanara.blogspot.com/2010/01/apa-beda-kepemimpinan-dan-pemimpin.html
  2. http://www.Id.svoong.com/2010/01/apa-beda-kepemimpinan-dan pemimpin.html
  3. http://www. kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com/2009/03/definisi-pemimpin.html
  4. http://www. referensi-kepemimpinan.blogspot.com/2009/04/beberapa-pendekatan-dalam-kepemimpinan.html
  5. http://www. ringgodoank.blogspot.com/2009/12/pendekatan-situasional-kontingensi.html
  6. http://www. manajemen-koperasi.blogspot.com/2008/06/kepemimpinan.html
  7. http://www.students.imtelkom.ac.id/web2.0/index.php/e-mading/etika-kepemimpinan-dalam-berorganisasi.html
  8. http://www.referensi-kepemimpinan.blogspot.com

Sabtu, 01 Mei 2010

Penyakit Taeniasis/Cysticercosis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada umumnya taeniasis/cysticercosis terjadi di negara-negara berkembang yang menurut WHO prevalensinya terus meningkat di berbagai negara. Kalaupun terjadi di negara maju biasanya terjadi di daerah komunitas urban. Peningkatan kebutuhan daging dunia, perkembangan industry daging, serta lalu-lintas perdagangan ternak hidup merupakan faktor penting dalam penyebaran penyakit. Pertambahan penduduk yang semakin meningkat akan mengakibatkan mobilisasi manusia/pekerja-pekerja pertanian antar daerah juga bertambah. Penyakit ini banyak ditemukan di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Namun, menurut beberapa laporan, cystisercosis juga ditemukan di negara yang maju seperti di Amerika Serikat. Di negara tersebut jumlah kasus neurosistiserkosis meningkat dan diperkirakan lebih dari 1000 kasus terdiagnosis setiap tahun. Hal ini disebabkan karena peningkatan jumlah imigran dari Meksiko dan negara berkembang lain yang datang ke negara tersebut. Rosenfeld dkk. melaporkan selama tahun 1986-1994 ditemukan 47 kasus neurosistiserkosis pada anak di rumah sakit anak Chicago.

Jika mempelajari kembali prevalensi taeniasis/cysticercosis di Indonesia dari tahun ke tahun bahkan sampai tahun 2001 secara nyata justru meningkat walaupun di daerah endemik. Di Indonesia, propinsi Papua (Irian Jaya) adalah daerah yang hiperendemis sistiserkosis. Prevalensi sistiserkosis pada manusia yang tinggal di daerah pedesaan Kabupaten Jayawijaya sebesar 41,3%-66,7%. Prevalensi sistiserkosis pada babi (porcine cysticercosis) berkisar antara 62,5% sampai 77,8%, sedangkan prevalensi taeniasis solium sebesar 15% (Subahar dkk, 2001). Pasien yang menderita sistiserkosis memperlihatkan tanda-tanda dan gejala klinis seperti benjolan di bawah kulit, mengalami serangan kejang-kejang dan sakit kepala. Di samping itu, penderita sistiserkosis otak seringkali mengalami luka bakar. Penderita taeniasis solium (adult worm carriers) merupakan sumber utama penularan sistiserkosis pada manusia. Di dalam suatu keluarga, jika salah satu anggota keluarga menderita taeniasis kemungkinan anggota keluarga lainnya akan menderita sistiserkosis. Hal ini telah dilaporkan oleh Sarti dkk, di Mexico yaitu satu anggota keluarga menderita taeniasis, seringkali pada anggota keluarga lainnya didapatkan hasil sero-positif terhadap antigen T. solium. Di Indonesia, Subahar dkk, melaporkan tentang 3 keluarga pemilik babi yang tinggal di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Anti sistiserkosis antibodi ditemukan pada 2 dari 3 pemilik babi tersebut. Pada kenyataannya bahwa di daerah-daerah endemik masih banyak keluarga yang tidak memiliki jamban sehingga defekasi dilakukan di kebun sekitar rumah dan pada tempat yang sama juga melepaskan ternak babi berkeliaran sepanjang hari. Mereka mempunyai kebiasaan makan ubi jalar mentah, makan daging babi hanya dibakar saja yang diduga pemasakannya belum sempurna. Pada daerah endemik yang lain bahkan mengkonsumsi daging/darah babi mentah atau setengah matang yang dikaitkan dengan upacara pada hari besar keagamaan (Kompas 8 juli 2002; Denpasar Post Agustus 2002).

Karakteristik fisik wilayah tropik seperti Indonesia merupakan surga bagi kelangsungan hidup cacing parasitik yang ditunjang oleh pola hidup kesehatan masyarakatnya. Telah dibuktikan bahwa tingkat prevalensi kecacingan di Indonesia sampai dengan tahun 1984 masih sangat tinggi yaitu sebesar 50% cacing tambang dan 65% cacing gelang (Edmundson & Edmundson 1992). Sedangkan infeksi oleh cacing pita kebanyakan disebabkan oleh cacing pita babi dan cacing pita sapi (Margono 1989) yang terjadi pada daerah-daerah tertentu dengan kekhasan tipe budaya masyarakatnya antara lain pulau Samosir, pulau Bali serta daerah migrannya di Lampung, dan Papua (Irian Jaya). Tidak dapat dipungkiri bahwa keeratan hubungan antara manusia dan ternak/hewan kesayangan baik dalam bentuk rantai makanan maupun hubungan social dapat mempertahankan kejadian penyakit yang bersifat zoonosis. Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Taeniasis dan cysticercosis adalah satu contoh zoonosis berbahaya pada manusia yang disebabkan oleh infeksi cacing pita dewasa maupun larvanya. Penyakit ini kurang dikenal oleh masyarakat luas yang lebih mengenal anthrax atau BSE (sapi gila). Sistiserkosis yang disebabkan oleh larva atau metasestoda T. solium merupakan salah satu zoonosis yang dapat memberikan gejala-gejala berat khususnya bila larva terdapat pada otak atau mata. Larva menyebabkan gejala yang lebih ringan bilamana ditemukan di jaringan subkutan, otot atau organ lain.

B. Rumusan masalah

Ø Apa yang dimaksud dengan dengan penyakit zoonosis (taeniasis dan cysticercosis) ?

Ø Apa penyebab dari penyakit taeniasis dan cysticercosis ?

Ø Bagaimana gejala klinis dari taeniasis dan cysticercosis ?

Ø Bagaimana pola penyebaran dari taeniasis dan cysticercosis di Indonesia ?

Ø Bagaimana pencegahan dan pengendalian taeniasis dan cysticercosis ?

C. Tujuan Penulisan

Mengenalkan penyakit parasit zoonotik taeniasis dan cysticercosis yang meliputi antara lain cara penularan dan pencegahannya.

BAB II

PEMBAHASAN

Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Taeniasis dan cysticercosis adalah satu contoh zoonosis berbahaya pada manusia yang disebabkan oleh infeksi cacing pita dewasa maupun larvanya. Sistiserkosis yang disebabkan oleh larva atau metasestoda T. solium merupakan salah satu zoonosis yang dapat memberikan gejala-gejala berat khususnya bila larva terdapat pada otak atau mata. Jenis cacing pita yang umum menginfeksi manusia di dunia adalah Taenia, Echinococcus, Diphyllobothrium, Hymenolepis, dan Dipylidium (Craig et al. 1996; Raether & Hanel 2003). Namun yang bersifat obligatory-cyclozoonoses adalah Taenia saginata, T. solium, dan T. saginata taiwanensis, karena hanya manusia sebagai inang definitif yang dapat terinfeksi cacing dewasa. Sedangkan cacing yang lain inang definitif utamanya adalah karnivora. Tentu saja yang bertindak sebagai inang antara (infeksi larva) adalah hewan ternak, kesayangan, bahkan hewan liar yang erat berhubungan dengan kehidupan manusia baik dalam rantai makanan maupun kontak dengan lingkungan mereka.

Ø Taenia saginata (cacing pita daging sapi) : Cacing dewasa dapat ditemukan dalam usus manusia penderita taeniasis, berbentuk pipih panjang seperti pita dan tubuhnya beruas-ruas (segmen). Panjangnya rata-rata 5m bahkan bisa mencapai 25m yang terdiri atas lebih dari 1000 segmen (Pawlowski & Schultz 1972; Soulsby 1982; Smyth 2004). Cacing ini memiliki kepala yang disebut scolex, berdiameter 2mm menempel pada permukaan selaput lendir ususmanusia. Ketika mencapai stadium dewasa, lebih dari separuh segmennya telah mengandung telur, namun hanya beberapa puluh segmen yang mengandung telur matang disebut segmen gravid. Segmen gravid kurang lebih mengandung 800.000 telur pada setiap segmen (Soulsby 1982). Berbeda dengan T. solium, segmen gravid T. saginata spontan keluar dari anus penderita secara aktif, kadang-kadang keluar bersama tinja ketika defekasi. Apabilatelur yang bebas dari segmen gravid tersebut mencemari lingkungan pakan ternaksapi/kerbau, telur yang tertelan ternak menetas dalam ususnya. Embrio (oncosphere) cacing menembus dinding usus kemudian bermigrasi ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Selama migrasi oncosphere mengalami perkembangan sampai tiba pada habitat yang cocok tumbuh menjadi larva setelah 2-3 bulan. Larva ini juga disebut metacestoda atau lebih dikenal sebagai cacing gelembung yang berukuran (4-5)mm x (7.5-10)mm. Larva yang menyerupai balon kecil yang berisi cairan ini disebut Cysticercus bovis dapat ditemukan dalam jaringan otot/organ tubuh sapi/kerbau. Habitat utamanya adalah otot lidah, otot pengunyah, diafragma, jantung (Urquhart et al. 1987), namun dengan infeksi percobaan (T. saginata strain Bali) cysticercus tersebar ke seluruh otot sapi coba (Dharmawan 1995). Di dalam tubuh sapi cysticercus dapat bertahan hidup selama beberapa tahun. Manusia yang mengonsumsi daging sapi yang mengandung cysticercus hidup selanjutnya berkembang menjadi T. saginata dalam ususnya.

Ø Taenia solium (cacing pita daging babi) : Cacing ini disebut juga cacing pita daging babi karena hewan babi bertindak sebagai inang antaranya yang mengandung larvanya. Ukuran cacing dewasa relatif lebih pendek dibandingkan dengan T. saginata yaitu antara 2-8m (Noble & Noble 1982; Soulsby 1982). Setiap individu cacing dewasa terdiri atas 800-900 segmen (Cheng 1986) hingga 1000 segmen (Soulsby 1982; Noble & Noble 1982). Berbeda dengan scolex T. saginata, selain diameternya lebih kecil yaitu 1mm dilengkapi dengan 2 baris kait di sekeliling rostellumnya. Mungkin karena ukurannya lebih kecil, setiap segmen gravidnya mengandung 4000 telur. Segmen gravid T. solium dikeluarkan bersama-sama tinja penderita taeniasis solium. Siklus hidup T. solium secara umum memiliki pola yang sama dengan Taenia yang lain, yang membedakan adalah inang antaranya yaitu babi. Namun menurut beberapa penulis pernah dilaporkan bahwa mamalia piaraan lainnya dapat juga sebagai inang antaranya (Ito et al. 2002). Babi adalah hewan omnivora termasuk makan tinja manusia, oleh karena itu sering ditemui beberapa ekor babi menderita cysticercosis berat, sehingga sekali menyayat sepotong daging tampak ratusan Cysticercus cellulosae (Noble & Noble 1982). Larva ini mudah ditemukan dalam jaringan otot melintang tubuh babi. Celakanya telur T. solium juga menetas dalam usus manusia sehingga manusia dapat bertindak sebagai inang antara walaupun secara kebetulan (Townes 2004; Wandra et al. 2003). Pada tubuh manusia penderita cysticercosis, larva cacing (Cysticercus cellulosae) dapat ditemukan dalam jaringan otak besar maupun kecil, selaput otak, jantung, mata, dan di bawah kulit (Noble & Noble 1982; Simanjuntak et al 1997; Wandra et al. 2003). Penularan dapat terjadi secara langsung karena menelan telur cacing yang mengontaminasi makanan atau minuman. Tetapi yang sering terjadi adalah autoinfeksi melalui tangan yang kurang bersih/setelah menggaruk-garuk bagian. tubuh yang terkontaminasi telur cacing atau secara internal yang diakibatkan oleh refleks muntah pada penderita taeniasis.

Ø Taenia saginata taiwannesis (cacing pita daging babi) : Secara morfologis cacing ini sangat mirip dengan T. saginata, memiliki nama lain T. asiatica ( Eom & Rim 1993 Didalam : Dharmawan 1995 ). Keberadaan cacing ini di Indonesia relatif baru dideskripsikan dari penderita di Sumatra Utara ( Fan et al. 1989; Dharmawan 1995 ). Pada prinsipnya siklus hidupnya tidak berbeda dengan taenia manusia yang lain. Namun yang menjadi perhatian adalah cysticercusnya hanya ditemukan dalam organ hati babi sebagai inang antara, walaupun secara eksperimental juga berkembang dalam tubuh sapi ( Dharmawan 1995 ). Pada awal studi diketahui bahwa anggota penduduk setempat menderita taeniasis yang didiagnosis sebagai Taeniasis saginata, padahal mereka sama sekali tidak mengonsumsi daging sapi melainkan daging babi.

Gambar Siklus hidup taenia manusia (cacing pita sapi dan cacing pita babi)

GEJALA KLINIS TAENIASIS DAN CYSTICERCOSIS

Menurut Symons (1989) jumlah cacing pita dalam usus kurang berpengaruh terhadap perubahan patologis dibandingkan dengan ukuran tubuh cacing. Walaupun hanya terdapat 1-2 ekor dan ukurannya besar dampak patologisnya lebih nyata. Penderita taeniasis jarang menunjukkan gejala yang khas walaupun di dalam ususnya terdapat cacing taenia selama bertahun-tahun, tetapi biasanya hanya terdapat satu ekor. Justru keluhan yang sangat mengganggu adalah dalam bentuk kejiwaan adalah keluarnya segmen gravid dari anus penderita yang menimbulkan kegelisahan (Dharmawan 1995). Gejala umum yang biasanya menyertai taeniasis adalah mual, sakit di ulu hati, perut mulas, diare bahkan kadang-kadang sembelit, nafsu makan berkurang hingga menurunkan berat badan, pening, muntah, nyeri otot, serta kejang-kejang (Fan et al. 1992). Menurutnya pula bahwa pasien taeniasis tetap mengeluarkan segmen gravid selama 1-30 tahun. Gejala klinis cysticercosis pada manusia sangat bergantung pada organ serta jumlah cysticercus yang tinggal. Infeksi berat pada otot menyebabkan peradangan (myocitis) yang bisanya menimbulkan demam. Jika menyerang organ mata (Ocular- Cysticercosis) gejala yang paling berat adalah kebutaan (Smyth 2004). Gejala-gejala syaraf seperti kelumpuhan, kejang, hingga epilepsi, dapat dipastikan bahwa larva tersebut menempati organ-organ yang sarat dengan jaringan syaraf seperti otak/selaput otak atau sumsum tulang belakang.

Gambar Larva cacing pita babi (Cysticercus cellulosae) Di dalam jaringan otak manusia

(Smyth 2004)

PENYEBARAN TAENIASIS DAN CYSTICERCOSIS DI INDONESIA

Menurut sejarahnya bahwa taeniasis/cysticercosis telah menyerang manusia sejak ribuan tahun yang lalu ketika antelope atau hewan ruminansia lainnya merupakan hewan buruan. Pada awalnya hyena dan kucing besar sebagai inang definifnya, sedangkan inang antaranya adalah ruminansia liar. Tentunya hal ini terjadi jauh sebelum domestikasi babi maupun babi yang disertai dengan perkembangan pertanian dan kehidupan manusia moderen. Distribusi T. saginata dan T. solium hampir ke seluruh penjuru dunia dan diperkirakan terjadi seratus juta kasus penyakit setiap tahunnya. Kejadiannya pada umumnya berkaitan dengan masalah sosial-budaya-keagamaan masyarakat tertentu dalam hal mengonsumsi daging babi. Selain itu sanitasi lingkungan dan yang berhubungan dengan menejemen ternak dan cara pembuangan tinja manusia. Dari berbagai faktor tersebut terbukti bahwa penyebaran taeniasis/cysticercosis di Indonesia terdapat di daerah-daerah tertentu yang berhubungan dengan adat- istiadat penduduk

setempat. Kasus cysticercosis di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh LeCoultre di Bali pada tahun 1920 yang agennya adalah Cysticercus cellulosae. Suweta (1991) mengompilasi berbagai pengamatan epidemiologis hingga tahun 1989 di Bali masih ada kasus taeniasis/cysticercosis pada manusia maupun ternak. Metode yang umum digunakan dalam survei epidemiologis adalah kuesioner yang diteguhkan dengan pemeriksaan laboratoris untuk mengetahui tingkat prevalensi. Dengan teknik diagnostic serologis Sutisna et al. (1999) dan Dharmawan (1995) masih membuktikan adanya kasus penyakit tersebut yang memang endemik di daratan Asia Tenggara. Papua juga merupakan daerah endemik cysticercosis/taeniasis sejak dilaporkan pertama kali pada tahun 1971 (Gunawan et al. 1976) yang konon adalah kiriman dari Bali. Tampaknya kejadiannya semakin meluas bahkan Papua New Guinea (PNG) merupakan daerah yang berisiko tinggi (McManus 1995) sebagai akibat lalu-lintas penduduk maupun ternak. Kejadian penyakit di daerah ini sangat mengejutkan WHO (Republika 3 Maret 2001) sampai disebut sebagai musibah nasional karena kasusnya terus meningkat hingga tahun 2001. Dengan manggunakan metode diagnosis yang semakin berkembang diantaranya yaitu teknik coproantigen dan analisis DNA mitochondria telah dilakukan untuk studi prevalensi serta identifikasi agennya (Margono et al. 2003; Wandra et al. 2003) yang tentunya akan berguna sebagai dasar pengendalian yang tepat. Yang menjadi pertanyaan adalah berapa lama lagi kita dapat melihat evaluasi hasil program pengendalian yang nyata menurunkan tingkat kejadian penyakit tersebut yang tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN TAENIASIS/CYSTICERCOSIS

Berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit merupakan titik kritis dalam menentukan strategi pencegahan maupun pengendalian. Titik kritis tersebut adalah sumber infeksi, inang yang rentan, serta transmisi penyakit yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Manusia maupun hewan penderita taeniasis/cysticercosis menghasilkan telur/segmen gravid atau larva infektif serta segala sesuatu yang tercemar telur cacing merupakan sumber penularan potensial. Pemberian anticestoda bagi penderita adalah upaya pengendalian yang penting terutama pada manusia. Pengobatan cysticercosis pada ternak jarang dilakukan karena dinilai kurang ekonomis, disamping itu sebelumnya perlu diagnosis terlebih dahulu dengan biaya yang memerlukan biaya cukup mahal. Kalaupun dilakukan uji serologis pada populasi ternak biasanya untuk keperluan studi epidemiologis. Sedangkan cysticercosis pada manusia (neuro-cysticercosis, ocular-cysticercosis) biasanya berakibat fatal sebelum dilakukan pengobatan. Peningkatan pemeriksaan kesehatan daging di rumah pemotongan hewan (RPH) oleh pejabat berwenang sangat diperlukan untuk pencegahan taeniasis manusia. Selain itu penyuluhan tentang sanitasi lingkungan dan konsumsi daging masak kepada masyarakat terutama yang berisiko tinggi. Pemasakan daging yang dapat membunuh cysticercus adalah pemanasan dengan suhu 50-60°C atau pembekuan pada suhu -10°C selama 10-14 hari. Banyak perdebatan tentang ketentuan tersebut karena berat/jumlah daging yang dipanaskan berhubungan dengan waktu pemanasan agar larva yang terkandung mati (Hilwig et al. 1978 di dalam: Soulsby 1982). Dengan demikian pula dengan pembekuan pada suhu -5°C memerlukan waktu 4 hari, -15°C selama 3 hari, dan -24°C cukup sehari (Smyth 2004). Perbaikan tata laksana peternakan sapi maupun babi adalah satu hal yang harus dilakukan untuk pencegahan cysticercosis pada ternak. Pada prinsipnya adalah mencegah kontak antara ternak/pakan ternak dengan tinja manusia penderita taeniasis.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ø Penyakit zoonosis taeniasis dan cysticercosis banyak ditemukan di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.

Ø Karakteristik fisik wilayah tropik seperti Indonesia merupakan surga bagi kelangsungan hidup cacing parasitik yang ditunjang oleh pola hidup kesehatan masyarakatnya.

Ø Daerah-daerah endemik masih banyak keluarga yang tidak memiliki jamban sehingga defekasi dilakukan di kebun sekitar rumah dan pada tempat yang sama juga melepaskan ternak babi berkeliaran sepanjang hari. Mereka mempunyai kebiasaan makan ubi jalar mentah, makan daging babi hanya dibakar saja yang diduga pemasakannya belum sempurna. Pada daerah endemik yang lain bahkan mengkonsumsi daging/darah babi mentah atau setengah matang yang dikaitkan dengan upacara pada hari besar keagamaan.

Ø Masih kurangnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit zoonis taeniasis dan cysticercosis.

Ø Penyakit ini dapat menyebabkan gejala yang bisa fatal bagi penderitannya.

Ø Pencegahan kontak antara ternak/pakan ternak dengan tinja manusia penderita taeniasis dan pengobatan yang tepat untuk mengatasi penyakit tersebut.

B. Saran

Ø Penyuluhan terhadap masyarakat tentang penyakit zoonosis taeniasis dan cysticercosis.

Ø Atas kekurangan dan minimnya tulisan ini di mohon kritik dan saran untuk upaya perbaikan dan pengayaannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rizal Subahar, Abdulbar Hamid, Wilfried Purba, Widarso, Akira Ito dan Sri S Margono, TAENIASIS/SISTISERKOSIS DI ANTARA ANGGOTA KELUARGA DI BEBERAPA DESA, KABUPATEN JAYAWIJAYA, PAPUA, JUNI 2005.

2. Elok Budi Retnani, TAENIASIS DAN CYSTICERCOSIS : PENYAKIT ZOONOSIS YANG KURANG DIKENAL OLEH MASYARAKAT DI INDONESI, 2004.